Alor

Sejarah Berdirinya Desa Padang Alang 

BAB I 

Pendahuluan

Sejak dahulu Amembuy, kini Padang Alang menjadi tempat yang sangat ditakuti oleh penduduk sekitar untuk berdomisili karena dipercaya dihuni oleh roh jahat/iblis yang dikenal dengan nama “Nara Nabuang”.  Iblis tersebut akan membuat siapa saja yang tinggal di Padang Alang menjadi sakit dengan gejala perut menjadi besar (bengkak) dan mata menjadi kuning lalu meninggal. Selain itu, Amembuy, kini Padang Alang juga dipercaya sebagai tempat bergentayangan roh atau jiwa orang yang telah meninggal dari kampung-kampung terdekat seperti Siboboi, Kenganai dan Bokman. Roh-roh orang yang telah meninggal tersebut dihentar atau diperintahkan oleh masyarakat dari kampung-kampung tersebut untuk menghuni tengah lembah Amembuy/Padang Alang, dengan kosa kata suku Papuna “Ooga Amembuy sama goowei pee”. Amembuy pun disegani oleh banyak orang khususnya untuk berdomisili, dikarenakan pula karena banyak terdapat nyamuk malaria yang bersarang di danau atau rawa seperti Danau Banranbuna, Longabing, Belbu, Malet dan Detiba yang hanya dihuni oleh babi hutan dan rusa.

Sesuai dengan visi Raja Lorens Karimaley yang ditindaklanjuti oleh  Ev. Mikha J. Banaweng disaat membuat surat undangan kepada 10 Temukung yang berada di Swapraja Batulolong untuk menghadiri perayaan Kemerdekaan NKRI yang ke-7, tanggal 17-08-1952 di Amembuy (Padang Alang), inilah cikal bakal digunakan nama Padang Alang. Jadi perayaan proklamasi kemerdekaan NKRI di Padang waktu itu dihadiri oleh 10 temukung bersama-sama dengan rakyatnya.

Setelah selesai perayaan Kemerdekaan NKRI yang ke-7, tanggal 17-08-1952, maka pulanglah ke-kesepuluh Temukung dengan rakyatnya ke kampung masing-masing, kecuali Ev. Mikha J. Banaweng yang tidak takut, penuh roh kebijaksanaan dan Iman serta takut akan Allah. Ia sabar dan tetap tinggal di Padang Alang, membuat pondok diatap alang-alang dan mengolah tanah yang subur itu. Tanaman yang Mikha tanam di tanah yang subur itu adalah ubi kayu (singkong), papaya, ubi jalar, kacang tanah dapat mengasilkan buah yang besar dan dari situ Mikha hidup dengan berkecukupan . Beliau meyakini bahwa Roh yang ada didalam dirinya, jauh lebih besar dari pada roh-roh yang ada di dunia (I Yohanes 4 : 4). Mikh terhidar dari kuasa Nara Nabuang, roh-roh orang mati, maupun nyamuk-nyamuk malaria karena kuasa Injil Yesus Kristus. Kondisi ini membuat penduduk kampung-kampung disekitar Amembuy pun tertarik atas kuasa Injil tersebut yang pada akhirnya mempersatukan mereka. “Sungguh alangkah baiknya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun. Sebab kesanalah Tuhan memerintahkan berkat kehifupan untuk selama-lamanya. (Mazmur 133 : 1-3). Kini kampung-kampung yang berdomisili di negeri terindah Padang Alang adalah: Buiba, Siboboi, Kenganai, Bokman, Kelabana, Wayata, Kasibaman dan Kabarambui.

BAB II

Suara Emas Bapak Petrus Maleikuang (Almarhum)

Permulaannya merupakan program dari Swapraja Batulolong, Ingin menjadikan Padang Alang sebagai ibu kota Swapraja Batulolong. Maka dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua Dewan Perwakilan Rakyat Swapraja Batulolong, Bapak Petrus Maleikuang (Alm), sangat besar jasanya dengan memotivasi rakyatnya yang bermukim di kapung-kampung, Siboboi, Kenganai dan Bokman untuk bermukim di Amembuy, kini Padang Alang. Namun suara emas beliau tidak ditanggapi secara postif oleh rakyatnya. Menjelang hari Proklamasi Kmerdekaan RI tanggal 17-08-1952 datanglah Bapak Raja Lorens Karimaley bertemu dengan Ev. Mikha Jakob Banaweng untuk memohon kesediaannya menjadi Panitia Perayaan Kemerdekaan NKRI yang ke-7, tanggal 17-08-1952. Permintaan tersebut ditanggapi postif oleh Ev. Mikha Jakob Banaweng.

Setelah pertemuan tersebut maka dibentuklah Panitia Perayaan Kemerdekaan NKRI yang ke-7, tanggal 17-08-1952 dengan keanggotaan sebagai berikut.

Ketua                    :  Ev. Mikha Jakob Banaweng

Wakil                     :  Bp. Cornelis Maleikari (Temukung Kiraman)

Sekretaris I         :  Bp. David Laukuang

Sekretaris II        :  Bp. Petrus J. Makalley

Bendahara          :  Bp. Marthinus Manisa (Temukung Siboboi)

Anggota               :  Kepala-kepala Kampung terdekat.

Nama Padang Alang meruapakan gagasan dari Ev. Mikha J. Banaweng disaat membuat surat undangan kepada 10 Temukung yang berada di Swapraja Batulolong untuk menghadiri perayaan Kemerdekaan NKRI yang ke-7, tanggal 17-08-1952 di Amembuy (Padang Alang). Inilah cikal bakal digunakan nama Padang Alang. Jadi perayaan proklamasi kemerdekaan NKRI di Padang waktu itu dihadiri oleh 10 temukung bersama-sama dengan rakyatnya yaitu :

  1. Temukung Tafuikadeli;
  2. Temukung Pelman;
  3. Temukung Munumawati;
  4. Temukung Maikawada;
  5. Temukung Katang;
  6. Temukung Silaipui;
  7. Temukung Sidabui;
  8. Temukung Kuneman;
  9. Temukung Siboboi; dan
  10. Temukung Kiraman.

Setelah selesai perayaan Kemerdekaan NKRI yang ke-7, tanggal 17-08-1952, maka pulanglah ke-delapan Temukung dengan rakyatnya ke kampung masing-masing, kecuali Temukung Siboboi dan Temukung Kiraman bersama rakyatnya untuk mendengar suara Ketua DPR Swapraja Batulolong Bp. Petrus Maleikuang. Melalui amanat atau suara emasnya, beliau mengimbau tuan-tuan tanah yaitu suku Buiba, suku Wayata, Suku Jenaramang, dan suku Kamusaramang, agar tanah pusaka Amembuy (Padang Alang) dijadikan tempat pemukiman. Sesudah mendengar suara emas beliau, kedua temukung dan rakyatnya pulang ke kampung masing-masing. Kecuali Ev. Mikha J. Banaweng bersama istri dan anak John Banaweng yang tetap tinggal di Padang Alang. Beliau membuat pondok dengan atap alang-alang untuk tempat tinggal ditanah yang bernama Rui-asiak, jalan ke suku Wayata.

BAB III 

Kebaktian Perdana

Kebaktian yang diselenggarakan oleh Gereja Zending, kini Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Padang Alang pada tanggal 14 September 1952, terjadi di tanah Rui-asiak dibawah pohon mangga Kaboyangme, dipimpin oleh Ev. Mikha J. Banaweng yang dihadiri oleh Istri dari Ev. Mikha J. Banaweng, anak John Banaweng, Bapak Markus Mailegi, istri dan kedua anaknya. Kebaktian perdana ini dihadiri oleh 7 orang. Dari ke-7 orang inilah menjadi cikal bakal berdirinya Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Padang Alang.

Pada tanggal 20 Maret 1949 Gereja Zending, kini Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) didirikan oleh Bapak Jesaya Maidjen di Siboboi (Papuna). Kebaktian perdananya dihadiri oleh 75 orang. Pembacaan Alkitab diambil dari Matius 3 : 2 yang berbunyi, “Bertobatlah Sebab Kerajaan Surga Sudah Dekat”.  Mereka yang hadir (75 orang itu) banyak yang bertobat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Dan pada bulan November 1953, dipimpin oleh Bpk. Jesaya Maidjen, ada 30 KK dengan jiwa Am 110 orang, pindah dari Siboboi dan berdomisili di Padang Alang. Berkerja sama dengan Ev. Mikha J. Banaweng membangun sebuah rumah darurat sebagai  tempat kebaktian di sebelah timur pohon mangga Kaboyangme.

Amembuy, kini Padang Alang ketika itu menjadi tempat yang sangat ditakuti oleh penduduk sekitar untuk berdomisili karena dipercaya dihuni oleh roh jahat/iblis yang dikenal dengan nama “Nara Nabuang”.  Iblis tersebut akan membuat siapa saja yang tinggal di Padang Alang menjadi sakit dengan gejala perut menjadi besar (bengkak) dan mata menjadi kuning lalu meninggal. Selain itu, Amembuy, kini Padang Alang juga dipercaya sebagai tempat bergentayangan roh atau jiwa orang yang telah meninggal dari kampung-kampung terdekat seperti Siboboi, Kenganai dan Bokman. Roh-roh orang yang telah meninggal tersebut dihentar atau diperintahkan oleh masyarakat dari kampung-kampung tersebut untuk menghuni tengah lembah Amembuy/Padang Alang, dengan kosa kata suku Papuna “Ooga Amembuy sama goowei pee”. Amembuy pun disegani oleh banyak orang khususnya untuk berdomisili, dikarenakan pula karena banyak terdapat nyamuk malaria yang bersarang didanau atau rawa seperti Danau Banranbuna, Longabing, Belbu, Malet dan Detiba. Nyamuk-nyamuk tersebut ketika menyengat seseorang maka ia menjadi sakit dengan gejala perut menjadi besar(bengkak) dan mata menjadi kuning lalu meninggal. Penduduk disekitar Amembuy sangat segan untuk berdomisili di tempat itu, kecuali Ev. Mikha J. Banaweng yang tidak takut. Beliau meyakini bahwa Roh yang ada didalam dirinya, jauh lebih besar dari pada roh-roh yang ada di dunia (I Yohanes 4 : 4).

Ev. Mikha J. Banaweng mengolah tanah yang subur di Amembuy dan menanam berbagai jenis tanaman seperti ubi kayu (singkong), ubi jalar/petatas, kacang tanah, papaya dan tanaman lain. Tanaman-tanaman ini pun bertumbuh subur, buah yang dihasilkan pun besar. Ev. Mikha J. Banaweng hidup dengan berkecukupan di Amembuy. Kuasa iblis telah dikalahkan, Allahku telah mengatupkan mulut nyamuk-nyamuk malaria itu sehingga tidak menggigit hamba-Nya (Daniel 6 : 23). Kuasa Allah melebihi kuasa iblis Nara Nabuang dan roh-roh atau jiwa-jiwa orang mati. Kamu berasal dari Allah, anak-anak-Ku dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu. Sebab Roh yang ada didalam kamu, lebih besar dari roh yang ada di dunia (I Yohanes 4 : 4). Hal inilah yang menyebabkan penduduk yang tinggal disekitar Padang Alang tertarik untuk berdomisili di Amembuy (Padang Alang).

Pada awalnya Ev. Mikha J. Banaweng melayani Tuhan di Borneo, kini KalimantanTimur. Tetapi hamba Tuhan ini sekeluarga berlibur mengunjungi keluarga di Bokman Desember 1949 dan mengadakan kebaktian perdana dari gereja Zending, kini Gereja Kemah Injil Indonesia pada tanggal 2 Juli 1950 yang dihadiri oleh 35 orang. Akan tetapi ada tantangan dari Pdt. Pisdon dan jajarannya, maka 25 orang kembali ke gereja asalnya yakni GMIT Bokman. Namun ada 10 orang lainnya yang tetap bersama-sama dengan Ev. M. J. Banaweng. Ev. M. J. Banaweng pun menngatakan kepada ke-10 orang tersebut, “Jikalau kamu pun kembali ke gereja asal, maka saya dan istri akan kembali ke Makassar dan terus ke Kalimantan memimpin orang Dayak untuk ke Sorga.” Lalu ke-10 orang tersebut menjawab, “Mengapa bapak pimpin orang lain masuk ke Sorga dan kami bagaimana?” Mendengar tanggapan ke-10 orang tersebut, Ev. Mikha J. Banaweng mengajak ke-10 orang tersebut berdoa dan berpuasa, maka terjadilah mujizat-mujizat besar seperti orang mati dibangkitkan, orang gila disembuhkan, orang timpang berjalan, dan orang sakit disembuhkan. Dampaknya adalah, ke-25 orang yang tadinya pergi pun kembali bersekutu dengan mereka. Melihat hal tersebut Ev. Mikha J. Banaweng berkata, “Selama 16 tahun saya merantau, jikalau saya membawa emas, perak dan pakaian, maka semua orang Bokman tidak semuanya akan mendapat. Tetapi saya datang memberitakan nama Yesus pada kebaktian pagi dan malam, maka semua orang datang mendengar, mengerti dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Banyak orang datang dan menyembah Kristus”.

Melanjut pasca perayaan kemerdekaan NKRI, setelah selesai perayaan Kemerdekaan NKRI yang ke-7, tanggal 17-08-1952, dan mendengar suara emas Ketua DPR Swapraja Batulolong Bapak Petrus Maleikuang, maka pulanglah kesepuluh Temukung dengan rakyatnya ke kampung masing-masing. Namun pada bulan November 1953, dipimpin oleh Bapak Jesaya Maidjen, ada 30 KK dengan jiwa Am 110 orang, pindah dari Siboboi dan berdomisili di Padang Alang. Saudara seiman dari kampung Kenganai, seperti Bapak Martinus Maiaweng sekeluarga, Bapak Mathias Awengbana sekeluarga, dipimpin oleh Bapak Laazar Awengbana sekeluarga, pindah ke Padang Alang. Dari kampung Bokman, dipimpin oleh Bapak Pertrus J. Makalley, pindah ke Padang Alang dan tinggal bersama Ev. Mikha J. Banaweng dan semua orang percaya di Padang Alang. Yang merupakan integrasi dari Siboboi, Kenganai dan Bokman, berdoa memuji memuliakan kebesaran Allah tanpa perbedaan karena kita semua satu di dalam Tubuh Kristus Yesus (Galatia 3 : 26, 28), “Bukan lagi sebagai hamba, melainkan sebagai saudara yang kekasih, … (Filemon  1 : 16), “Orang percaya yang telah mengerti  kebenaran, akan hidup dalam persaudaraan Kristen”.

Bab IV 

Membangun Bait Suci.

Umat Tuhan sehati, sepikir, seperasaan untuk membangun Kaa’bah Allah. “Kami hamba-hamba-Nya telah siap untuk membangun (Nehemia 2 : 20b)”. Oleh kasih Kristus yang dikerjakan oleh Roh Kudus, umat Tuhan yang terintegrasi dari Siboboi, Kenganai dan Bokman, dengan semangat membara bekerja bersama-sama bagi Tuhan tanpa pamrih. Membangun sebuah gedung permanen ditengah-tengah umat-Nya pada tanggal 25 Oktober 1956 di Padang Alang, Swapraja Batulolong yang kini kecamatan Alor Selatan, sebagai gedung kebaktian perdana dengan ukuran 10 x 20 meter. Pengadaan bahan bangunan (bahan lokal) seperti batu, pasir dan kapur dilakukan dengan gotong royong umat. Mereka mendatangkan bahan local itu dari hutan, sungai/kali dan pantai yang jaraknya kuang lebih 2 km dari Padang Alang. Sedangkan kayu yang digunakan saat itu digunakan yaitu Kayu merah yang diambil dari hutan bagian selatan padang Alang dengan cara gotong royong. Sedangkan, bahan bangunan dari luar seperti semen, seng dan paku diperoleh umat dengan bekerja bersama-sama pada musim berladang, dengan membuka kebun-kebun padi yang cukup luas. Dalam hal ini, umat yang berdomisili di Padang Alang bagian selatan (Padang Selatan) membuka ladang besar dan luas di wilayah tinggal dan wilayah kerjanya yang bernama “Bakarla” dan “Mainasi” yang sekali panen bisa menghasilkan padi ratusan blek. Sementara itu, umat yang berdomisili di Padang Alang bagian utara (Padang Utara) membuka ladang di wilayah tinggal dan wilayah kerjanya yang bernama “Kikaimang” dan “Toilang” milik suku Maramang Kamenglei, yang pada tahun selanjutnya membuka lagi ladang luas bernama “Agaimee” milik suku Jenaramang, yang juga menghasilkan padi ratusan blek. Dengan hasil padi tersebut mereka mendatangkan bahan bangunan dari luar seperti semen, seng dan paku. Caranya adalah umat menjual padi hasil lading tersebut ke Kalabahi melalui jalan laut, yakni menggunakan perahu layar milik saudara-saudara beragama Islam dengan biaya yang terjangkau. Jadi sejak dahulu umat Kristen di padang Alang, Alor Selatan, telah menerapkan sikap saling menghormati dan bekerja sama antar umat beragama.

Setelah dijual ke Kalabahi, uang tersebut lalu dibelanjakan semen, seng dan paku di toko Cekang Kalabahi dan diantarkan ke Padang Alang melalui jalan laut menggunakan perahu layar milik saudara-saudara beragama Islam dimaksud. Demikian dilakukan oleh umat sampai pembangunan Bait Suci tersebut selesai. Sedangkan tukang batu/bangunan juga adalah saudara-saudara beragama Islam tersebut, umat Tuhan mendatangkan para tukang dimaksud dari Alor Kecil, Kecamatan Alor Barat Laut. Artinya, sadi sejak dahulu umat Kristen di padang Alang, Alor Selatan, sudah sangat akrab membina kerukanan hidup di antara umat beragama. Hal ini juga diwujudkan saat penyembelihan hewan korban. Kambing, domba dan ayam disembelih oleh saudara-saudara yang beragama Islam, setelah itu baru diolah oleh jemaat Tuhan untuk disantap bersama-sama. Umat Tuhan di Padang Alang bekerja bersama-sama membangun Bait Allah selama 5 tahun, 9 bulan. Kemudian gedung tersebut ditabiskan pada tangal 25 Juni 1961 dengan mengorbankan 1 ekor kerbau serta puluhan ekor babi, kambing, domba dan ayam.

Kata Padang Alang pun kemudian masuk dalam gubahan lagu-lagu Bapak Ruben Oka, “Mubaraklah, Haleluyah”.

P : ada mu

A : kan

D : atang

A : nugerah

N : ikmat

G : emar

A : llah

L  : alu

A : da

N : egeri

G : emilang

Dasar Firman TUHAN yang digagas dalam gubahan lagu itu adalah Mazmur 123 : 1-4

“Berharap Kepada Anugerah Tuhan” Dasar Firman TUHAN dalam gubahan lagu itu kemudian digagas oleh Pdt. SIMON AS WOMAKAL.

BAB V 

Pembangunan di Bidang Pendidikan

Umat Tuhan tidak hanya membangun di bidang rohani tetapi juga di bidang sekuler yaitu pendidikan. Sekolah Dasar Negeri Padang Alang merupakan pemekaran dari Sekolah Dasar GMIT Kiraman. SD Negeri Padang Alang, didirikan oleh Gereja Kemah Injil Maranatha Alor, kini Gereja Kemah Injil Indonesia pada bulan Agustus 1960. Tokoh-tokoh pedirinya yaitu:

  1. Petrus J. Makalley;
  2. Mathinus Petrus Maidjen;
  3. Marthen Banaweng; dan
  4. Ruben Oka.

Ke-4 tokoh pendidikan ini merupakan orang-orang yang bijaksana, berwawasan visioner/kedepan bahwa pendidikan akan mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan-lah yang akan mengubah status sosial seseorang. Para pejuang pendidikan inilah yang bertanggungjawab terhadap kemajuan SD Kemah Injil Padang Alang (waktu itu). Saat itu datanglah Supervisor Bp. M. Duka yang datang mensupervisi  SD Kemah Injil Padang Alang. Beliau memerintahkan agar anak-anak pindahan dari SD GMIT Kiraman, harus kembali ke SD GMIT Kiraman. Sedangkan anak-anak yang baru masuk di SD Kemah Injil Padang Alang yang terus bersekolah di Padang Alang. Namun setelah itu, Kuasa Tuhan bekerja didalam ke-4 pejuang tersebut diatas, sehingga anak-anak pindahan dari SD GMIT Kiraman pun tetap bisa mengikuti pendidikan di SD Kemah Injil Padang Alang. Status SD Kemah Injil Padang Alang pun berubah menjadi SD Negeri Padang Alang tahun 1963. Sebelum menjadi SD Negeri Padang Alang, tenaga pengajar di SD Kemah Injil Padang Alang adalah sebagai berikut:

  1. Robert Maleikari (Kepala Sekolah & Wali Kelas VI);
  2. Lukas Awengkir (Wali Kelas I);
  3. Tertulianus Maikoka (Wali Kelas V);
  4. Lodwig Makalmai (Wali Kelas IV);
  5. Welem Mayok (Wali Kelas II);
  6. Marthinus P. Maidjen (Wali Kelas III).

Setelah itu datanglah guru negeri yang pertama, Bapak Welhelmus Maikameng dan menjadi kepala sekolah. Pada saat itu  status SD Kemah Injil Padang Alang pun berubah menjadi SD Negeri Padang Alang, dan Bapak Welhelmus Maikameng tetap menjadi kepala sekolah. Maka selanjutnya, datanglah guru-guru yang diangkat oleh pemerintah yakni, Lazarus Moata menggantikan Welhelmus Maikameng menjadi kepala sekolah dan berhenti pula guru-guru swasta mengajar ketika itu. Selanjutnya, datang lagi guru negeri bernama Christian Ab. Karipalay dan Hamsyah Igo. Hamsyah Igo ini kemudian menjadi kepala sekolah SD Negeri Padang Alang. Adapun guru negeri selanjutnya adalah Bapak Jubal P. Manilei.

Hal ini diingat betul oleh Penulis karena Penulis Sejarah Padang Alang ini menamat SDN Padang Alang pada tahun 1966. Saat itu ujiannya dilaksanakan di SDN Apui. Kemudian Penulis dinyatakan lulus dengan Ijazah SDN Padang Alang yang ditandatangani oleh Bapak Jubal P. Manilei selaku Kepala Sekolah saat Penulis menamat.

Berikut ini adalah urutan Kepala Sekolah SD Negeri Padang Alang pada era 1960an:

  1. Robert Maleikari (1960-1963)
  2. Welhelmus Maikameng (1963-1964)
  3. Lazarus Moata (1964-1965)
  4. Hamsyah Igo (1965-1966)
  5. Jubal P. Manilei (1966-19..)
  6. Kristian Ab. Karipalay

Sedangkan bapak-bapak guru yang diangkat oleh masyarakat dan jemaat, mereka tidak mengikuti pendidikan guru atau SGB, mereka tidak mengajar namaun mereka mendidik. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, nilai etika, moral atau nilai kebaikan, nilai kebenaran (epistemologis), nilai keindahan (estetika)dan kesusilaan serta nilai ketuhanan (religius).  Semua nilai tersebut diajarkan oleh mereka. Mereka mengajarkan hal-hal seperti, Mengasihi orang tua dan orang lain, tidak merusak tanaman atau hak milik orang lain, menghafal ayat-ayat Alkitab (Matius 6:33; 1 Tesalonika 5:22; Mazmur 23:1; Ulangan 28:3-6). Mereka juga mempunyai tulisan yang baik, sehingga penulis pun mengikutinya. Untuk itu, pada kesempatan ini, diakhir tulisan ini, Penulis ingin mengucapkan, “Selamat jalan bapak-bapak guru. Jasamu akan dikenang sepanjang hayat dikandung badan”.

Penulis : SIMON AS WOMAKAL